Ada Apa Dengan Jilbab

Ketika membahas tentang jilbab ada beberapa permasalahan yang muncul mengenai jilbab itu sendiri. Sebuah permasalahan yang sepertinya harus mendapatkan perhatian serius, khususnya umat muslim. Permasalahan tersebut adalah :

Pertama
, jilbab oleh masyarakat telah dianggap sebagai sebuah ”aturan agama”. Kebanyakan masyarakat kita sekarang ini secara sadar ataupun tidak sadar telah menganggap jilbab itu sebagai sebuah “aturan agama”. Banyak contoh kasus dapat dengan mudah kita temui tentang adanya anggapan tersebut. Misalnya ketika kita melihat perempuan yang memakai jilbab sedang bermesraan dengan lawan jenis di sebuah area public, maka akan muncul beragam tanggapan. Diantaranya adalah “pakai jilbab kok gitu sih, apa nggak dosa ?” atau “masak perempuan berjilbab begitu, apa nggak takut dosa !”. Akan tetapi ceritanya akan berbeda ketika si perempuan yang sedang bermesraan dengan lawan jenis tersebut tidak mengenakan jilbab. Pasti kita akan bersikap masa bodoh, dan menganggap hal tersebut sebagai sesuatu hal yang wajar dilakukan. Ironis memang, tetapi realitanya itulah yang terjadi dalam masyarakat kita. Begitulah keadaannya ketika masyarakat telah menganggap jilbab sebagai sebuah “aturan agama”. Ketika orang melihat orang berjilbab sedang bercumbu mesra dengan orang yang bukan muhrimnya maka kita akan beranggapan mereka telah melanggar agama, padahal jilbab sejatinya bukanlah “aturan agama”.

Kedua
, jilbab dalam masyarakat kita telah identik sebagai penutup aurat. Hal ini tercermin dari salah satu seorang teman yang menegur seorang temannya “kok nggak pakai jilbab sih untuk menutup aurat ?” lucu, padahal teman yang ditegurnya itu sudah memakai kerudung yang sudah cukup atau bahkan lebih untuk menutupi bagian auratnya. Melihat kejadian tersebut, timbul sebuah pertanyaan dalam hati “apa sampai sebegitunya ya ? “ kejadian ini salah satu dari sekian banyak contoh kejadian yang menggambarkan bahwa masyarakat kita telah mengidentikkan jilbab sebagai penutup aurat. Padahal tidak ada ayat yang menyatakan bahwa untuk menutup aurat harus menggunakan jilbab. Dalam Al-Qur’an memang ada ayat yang memerintahkan untuk menutup auratnya dengan dengan kain kudung. Tetapi kata kain kudung yang dipergunakan dalam ayat tersebut menggunakan kata “Khumurun” bukan kata “Jilbabun”. Jadi untuk menutup aurat tidaklah harus menggunakan jilbab, kita bisa menggunakan kerudung atau kain yang sekiranya bisa untuk bagian aurat yang harus ditutupi. Tetapi kita juga tidak bisa menyalahkan teman yang menegur seorang temannya yang memakai kerudung untuk menutup auratnya. Karena jilbab selama ini sudah identik dengan penutup aurat dan sudah menjadi “kebiasaan” masyarakat kita. Memang hal ini tidak sepenuhnya salah, namun kedepan agaknya perlu diberikan sebuah pemahaman kepada masyarakat tentang bagaimana memahami jilbab itu sendiri.

Ketiga
, jilbab dianggap hanya sebagai “aksesoris” untuk menutup aurat semata. Bisa dikatakan ini merupakan permasalahan yang paling harus mendapatkan perhatian serius. Tidak bisa kita pungkiri bahwa sekarang semakin banyak orang yang memakai jilbab. Akan tetapi dengan semakin banyaknya orang yang memakai jilbab diiringi juga dengan semakin banyaknya orang yang memakai jilbab hanya sebagai aksesoris untuk menutup aurat semata. Hal tersebut agaknya sekarang ini dapat dengan mudah kita temui, bagaimana seseorang yang dengan penuh dengan kesadaran sendiri memakai jilbab yang oleh masyarakat kita dianggap sebagai sebuah “aturan agama”. Namun ternyata perilaku mereka bertolak belakang dengan nilai-nilai yang seharusnya mereka lakukan. Bukan sebuah pemandangan yang aneh ketika kita melihat seorang perempuan berjilbab bermesraan dengan orang yang bukan muhrimnya di area public, atau perempuan berjilbab yang sedang berjalan sempoyongan karena habis mabuk. Inilah yang terjadi ketika jilbab hanya berfungsi sebagai aksesoris penutup aurat semata. Padahal seharusnya jilbab bukan hanya berfungsi untuk menutupi aurat melainkan juga melindungi aurat. Artinya adalah ketika seseorang memakai jilbab seharusnya tidak berhenti pada persoalan sudah menutup aurat. Akan tetapi perilakunya juga harus mencerminkan nilai-nilai yang seharusnya dilakukan sesuai dengan nilai-nilai agama dan nilai-nilai kemanusiaan. Akan menjadi sebuah ironi, ketika sebagian orang muslim sedang giat-giatnya memperjuangkan agar jilbab dikenakan oleh umat muslim perempuan. Namun ternyata ada yang memakai jilbab tetapi hanya dipakai sebagai aksesoris penutup aurat semata.

Posted on 01/05/2010, in Tafakkara and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a Comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s