Metode Mempelajari Islam

Memahami Islam secara menyeluruh adalah penting walaupun tidak secara detail. Begitulah cara paling minimal untuk memahami agama paling besar sekarang ini agar menjadi pemeluk agama yang mantap, dan untuk menumbuhkan sikap hormat bagi pemeluk agama lainnya. Di samping itu untuk menghindari kesalahpahaman yang mana memungkinkan timbulnya pandangan dan sikap negatif terhadap Islam, maka untuk memahami Islam secara benar ialah dengan cara-cara sebagai berikut :
Pertama, Islam harus dipelajari dari sumbernya yang asli yaitu Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah. Kekeliruan memahami Islam karena orang hanya mengenalnya dari sebagian ulama-ulama dan pemeluk-pemeluknya yang telah jauh dari pimpinan Qur’an dan Sunnah. Atau pengenalan dari sumber kitab-kitab fiqih dan tasawuf yang telah tua ketinggalan zaman yang kebanyakan bercampur dengan bid’ah dan khufarat.
Kedua, Islam harus dipelajari secara integral, tidak dengan cara parsial, artinya ia pelajari secara menyeluruh sebagai suatu kesatuan yang bulat tidak secara sebagian saja. Apabila Islam dipelajari secara sebagian saja dari ajarannya, apalagi yang bukan pokok ajaran dan dalam bidang-bidang masalah khilafiyah, maka tentulah pengetahuannya tentang Islam seperti yang dipelajarinya, yaitu bagian kecil dari masalah dalam Islam dan bukan yang pokok. Walaupun demikian barangkali seseorang tidak mampu atau tidak ada kesempatan untuk mempelajarinya secara detail, maka cukup dengan prinsip-prinsip Islam saja. Dengan mempelajari prinsip-prinsip ajaran Islam, mudah ditemukan pola ajaran Islam dengan sebaik-baiknya sebagai suatu agama yang mengajarkan tentang kehidupan yang harmonis duniawi dan akhirat.
Ketiga, Islam perlu dipelajari dari kepustakaan yang ditulis oleh para ulama besar, kaum zu’ama dan sarjana-sarjana Islam. Pada umumnya mereka memahami Islam secara baik, pemahaman yang lahir dari perpaduan ilmu yang dalam terhadap Qur’an dan Sunnah Rasulullah dengan pengalaman yang indah dari praktek ibadah yang dilakukan tiap hari.
Keempat, kesalahan sementara orang mempelajari Islam ialah dengan jalan mempelajari kenyataan umat Islam an sich, bukan agama Islam yang dipelajarinya. Sifat konservatif sebagian golongan Islam, keterbelakangan di bidang pendidikan, keawaman, kebodohan, disintegrasi dan kemiskinan masyarakat Islam itulah yang dinilai sebagai Islamnya sendiri. Tak ada suatu kesalahan besar melainkan dengan cara semacam ini. Maka untuk mempelajari Islam jangan ia pelajari dari segi kenyataan-kenyataan luar sebagian pemeluknya, tapi pelajarilah Islam itu sendiri !

Referensi : “Dienul Islam”

About these ads

Posted on 01/02/2010, in Tafakkara and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: