Sistem Politik

Sistem politik bisa dikatakan sebagai sebuah hal yang berfungsi untuk mempertahankan hukum dan ketertiban dalam suatu negara. Sistem politik ini pula digunakan untuk mengatur hubungan-hubungan eksternal di antara dan di kalangan masyarakat. Sistem politik membangun cara-cara kontrol sosial dan aturan-aturan yang dirancang untuk membatasi perilaku-perilaku individu dalam batas-batas tertentu dan untuk membuat dan menjalankan keputusan untuk kepentingan seluruh masyarakat atau segmen-segmen tertentu dalam masyarakat.
Sistem politik ini hanya merupakan salah satu dari bermacam-macam sistem yang terdapat dalam suatu masyarakat, semisal sistem ekonomi, sistem komunikasi dan sebagainya. Oleh karena semua sistem tersebut berada dalam masyarakat atau sistem sosial, maka sering sistem ekonomi, sistem komunikasi dan sebagainya itu dinamakan sub sistem dari sebuah masyarakat atau sistem sosial.
Setiap sistem masing-masing mempunyai fungsi tertentu yang dimaksudkan untuk menjaga kelangsungan hidup dan mencapai tujuan dari masyarakat tersebut. Sistem-sistem inilah yang merupakan lingkungan dari sistem politik. Sistem-sistem memberikan pengaruh bagi jalannya sistem politik serta pelaku-pelaku politik.
Dalam sistem politik, budaya politik merupakan salah satu aspek penting dalam sebuah variabel sistem politik, selain kekuasaan, kepentingan dan kebijaksanaan. Budaya politik adalah keseluruhan dari pandangan-pandangan politik, seperti norma-norma, pola-pola orientasi terhadap politik dan pandangan hidup pada umumnya. Budaya politik mengutamakan dimensi psikologis dari suatu sistem politik, yaitu sikap-sikap sistem kepercayaan, simbol-simbol yang dimiliki oleh individu-individu dan beroperasi di dalam seluruh masyarakat serta harapan-harapannya.

Referensi :
Ramlan Surbakti “Konsep-Konsep Sosiologi dan Politik”
Prof. Miriam Budiardjo “Dasar-Dasar Ilmu Politik”

Tentang Kamu dan Kita

Sebuah cerita tentang kamu dan kita
Tersemat janji setia dalam lafal khusyu’
Ku pahamkan dalam hati agar selaras dalam rasa
Membina indah mahligai dalam ruang hati
Mewujud dalam cinta sejati yang tak tertawar lagi
Kedamaiannya memahkotai kepingan hati
Menghentak dawai rasa dalam petikan romansa
Bentang tabir rasa berpacu dengan rindu
Berjuta kata mengharu biru berkabut sendu
Haru penuh cahaya kasih meluap dengan rasa syukur
Melantukan kidung suci dalam getar dawai sanubari
Melebur menjadi satu dan mencipta dalam kalbu

Bahtera Cinta

Cinta
Datang mewangi dalam sebuah nama
Mengakar menembus kalbu
Dan itu adalah namamu

Kau dan aku melebur menjadi satu
Menderu menjadi jiwa baru
Lengkapi bahtera cinta
Atas ridho sang maha cinta

Rasa

Sembah sujudku di atas sajadah
Terucap kalimat di setiap detak jantung
Mengalir dalam dampar mengoyak langit
Membumbung dalam iringan riuh rendah gaung membahana

Aku bertanya dalam diamku
Sudahkah rindu dan cinta membelenggu di sana
Tanya itu terus mengalir
Menyelinap membelenggu raga nan fana

Kamu

Detik demi detik telah terlewati
Semakin dalam pijakan yang telah dijalani
Tak terasa semua semakin menjadi
Mengilhami denyut nadi yang terpatri

Genggamlah tangan ini
Lalui hari sepi nan sunyi
Menjalani kerasnya dunia ini
Karena dirimu sangatlah berarti

Bersamamu Mu

Bertahan ku disini
Ungkap semua rasa
Demi keyakinan ini
Tentang takdir cinta

Ku yakinkan diri
Rasa ini tak akan pernah mati
Membalut hangat seluruh nafasku
Menua bersama dalam pelukmu

Kecerdasan Emosional

Emosi secara harfiah didefinisikan dalam Oxford English Dictionary sebagai sebuah kegiatan atau pengelolaan pikiran, perasaan, nafsu, setiap keadaan mental yang hebat, meluap-luap. Oleh karena nya emosi umumnya diikuti dengan pikiran, psikis, dan juga hasrat untuk melakukan sesuatu.
Teori tentang kecerdasan emosi dikembangkan pertama kali pada tahun 1970-an dan 80-an dengan karya dan tulisan-tulisan dari psikolog Howard Gardner (Harvard), Peter Salovey (Yale) dan John ‘Jack’ Mayer (New Hampshire). dan menjadi terkenal saat Daniel Goleman, psikolog dari Harvard University, menulis buku Emotional Intelligence tahun 1995.
Istilah kecerdasan emosi pertama kali berasal dari konsep kecerdasan sosial yang dikemukakan oleh Thordike pada tahun 1920 dengan membagi 3 bidang kecerdasan yaitu kecerdasan abstrak (seperti kemampuan memahami dan memanipulasi simbol verbal dan matematika), kecerdasan konkret seperti kemampuan memahami dan memanipulasi objek, dan kecerdasan sosial seperti kemampuan berhubungan dengan orang lain.
Read the rest of this entry

Ampas Tebu

Ampas tebu atau bagasse adalah hasil samping dari proses ekstraksi tanaman tebu. Berdasarkan analisis kimia, ampas tebu memiliki komposisi kimia yaitu, abu 3,28 %, lignin 22,09 %, selulosa 37,65 %, sari 1,81 %, pentosan 27,97 % dan SiO2 3,01 %. Ampas tebu ini dihasilkan sebanyak 32 % dari berat tebu giling.
Pada umumnya, pabrik gula di Indonesia memanfaatkan ampas tebu sebagai bahan bakar bagi pabrik yang bersangkutan, setelah ampas tebu tersebut mengalami proses pengeringan.
Dengan kandungan ligno-cellulose serta memiliki panjang seratnya antara 1,7 sampai 2 mm dengan diameter sekitar 20 mikro, sehingga ampas tebu ini secara ekonomis pemanfaatannya tidak hanya sebagai sumber energi bahan bakar semata. Namun ampas tebu ini bisa dimanfaatkan juga sebagai bahan baku untuk industri kertas, industri kanvas rem, industri jamur dsb.
Bahkan ampas tebu juga bisa dimanfaatkan sebagai bahan pakan ternak. Namun demikian, ampas tebu yang akan digunakan sebagai bahan pakan ternak masih harus melalui proses fermentasi menggunakan probiotik yang dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas dan kecernaannya, serta  dilakukan penambahan beberapa bahan untuk melengkapi kebutuhan mineral yang diperlukan dalam bahan pakan tersebut.
Dengan nilai ekonomis yang ada pada ampas tebu, tidaklah tepat istilah “habis manis sepah dibuang” diterapkan pada industri gula. Karena pada kenyataannya sepahnya pun masih memiliki nilai ekonomis.

Klasifikasi Tanaman Tebu

Tebu atau sugar cane dalam bahasa inggris adalah tanaman yang memiliki klasifikasi sebagai berikut :

Kingdom : Plantae (tumbuhan)
Sub Kingdom : Tracheobionta (tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi : Spermatophyta (menghasilkan biji)
Divisi : Magnoliophyta (tumbuhan berbunga)
Kelas : Liliopsida (berkeping satu /monokotil)
Sub Kelas : Commelinidae
Ordo : Poales
Famili : Graminae atau Poaceae (suku rumput-rumputan)
Genus : Saccharum
Spesies : Saccharum officinarum Linn

Pondok Pesantren Salafiyah Bihaaru Bahri ‘Asali Fadlaailir Rahmah (Masjid Tiban)

turen1Nama Pondok Pesantren Salafiyah Bihaaru Bahri ‘Asali Fadlaailir Rahmah, merupakan nama yang asing bagi kita semua. Pondok pesantren yang beralamat di Jalan KH. Wahid Hasyim Gang Anggur No.10, RT 07 / RW 06 Desa Sananrejo, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang ini memang lebih popular dengan nama “masjid Tiban”. Walaupun bangunan ini bukanlah sebuah bangunan masjid tetapi bangunan ini adalah bangunan sebuah kompleks pondok pesantren yang terdiri dari 10 lantai dimana didalam nya ada masjid, pondokan para santri, ruang belajar santri, ruang keluarga, tempat wisata, pertokoan yang dikelola oleh para santriawan dan santriawati, dimana semua itu terintegrasi menjadi satu bangunan utuh.
turen2Banyak yang berasumsi tentang keberadaan bangunan ini dengan mengaitkannya pada hal-hal yang berbau mistis. Asumsi ini didasarkan atas kemegahan dan keindahan arsitektur yang dimiliki bangunan ini serta pembiayaan untuk menyokong pembangunannya. Namun asumsi yang selama ini mengiringi keberadaan Pondok Pesantren Salafiyah Bihaaru Bahri ‘Asali Fadlaailir Rahmah tidaklah benar.
turen3Sejatinya, Pondok Pesantren Salafiyah Bihaaru Bahri ‘Asali Fadlaailir Rahmah ini sudah ada sejak tahun 1963. Pondok pesantren ini dipimpin oleh Hadratus Syaikh H Ahmad Bahru Mafdlaluddin Shaleh Al-Mahbub Rahmat Alam atau yang lebih dikenal dengan nama romo Kyai Ahmad. Beliau jugalah yang mendesain arsitektur bangunan pondok ini. Walaupun tidak mempunyai latar belakang seorang arsitek, romo kyai Ahmad bisa mendesain sebuah bangunan megah yang bernuansa arab dan timur tengah tersebut atas hasil dari istikharah. Dari hasil istikharah itulah pada sejak tahun 1978 Pondok Pesantren Salafiyah Bihaaru Bahri ‘Asali Fadlaailir Rahmah dimulai proses pembangunannya dan terus berlanjut hingga sekarang. Sedangkan untuk masalah pendanaan dan ketenagakerjaan semuanya bersifat swakarsa dari para jamaah pondok.
Ada yang unik dari pengerjaan pembanguan pondok pesantren ini, yaitu pengerjaannya tidak menggunakan alat-alat berat modern. Semuanya murni dikerjakan oleh tenaga manusia. Sayangnya, keindahan arsitektur bangunan Pondok Pesantren Salafiyah Bihaaru Bahri ‘Asali Fadlaailir Rahmah kurang banyak diketahui oleh khalayak luas. Padahal akses jalan untuk menuju ke pondok pesantren ini cukup bagus, hanya saja kurang dari sisi promosi.